Mengadopsi bayi bukan hanya masalah finansial..
Mengadopsi bayi, bukan hanya masalah apakah Anda mampu atau tidak dalam segi finansial. Faktor kesiapan mental pun tak kalah penting.
Setelah menikah selama lima tahun, Rangga (37 tahun) dan Melli (35 tahun) sepakat mengadopsi seorang bayi. ‘’Lima tahun ini kami sudah mengusahakan berbagai upaya untuk memiliki anak sendiri, tapi belum juga berhasil,’’ kata Melli kepada Agustin (19 tahun), ibu bayi yang akan diadopsi pasangan tersebut.
Agustin sebenarnya bukan orang asing bagi Melli. Bila dirunut, wanita muda itu masih tergolong sepupu jauh dari pihak ayah Melli. ‘’Saya terlalu muda untuk mengasuh bayi. Saya belum siap. Apalagi kondisi perekonomian juga tidak mendukung,’’ tutur Agustin, beralasan mengapa dirinya rela menyerahkan bayi yang baru dilahirkannya itu.
Setiap pasangan, cepat atau lambat tentu berharap dapat memiliki keturunan. Namun jika bertahun-tahun keinginan itu belum juga terwujud, maka cara lain tentu akan dipertimbangkan, seperti mengadopsi seorang bayi.
Hanya saja, kata Steven Dowshen, MD, seorang dokter spesialis anak endokrinologi, dari Division of Endocrinology Alfred I. duPont Hospital for Children dari Wilmington, DE, para orang tua harus juga mempertimbangkan secara matang keputusannya tersebut. ‘’Tidak masalah apakah bayi tersebut Anda dapatkan dari rumah sakit, atau dari sebuah yayasan, karena kehadirannya pastilah menjadi sesuatu yang sangat Anda harapkan,' kata Steven. Tentunya proses ini tidak begitu saja berhenti ketika Anda membawa anak yang diadopsi tersebut ke rumah. Melainkan, apa dan bagaimana selanjutnya?
Tips Mengasuh Bayi Adopsi
Lantas, apa sebenarnya yang harus dipersiapkan? Inilah beberapa di antaranya :
Bayi adopsi juga berhak untuk bahagia. Cara Anda memelihara, ternyata dapat mempengaruhi emosi si kecil saat ia dewasa. Seperti yang dituturkan William Sears MD, seorang dokter anak sekaligus penulis buku “The Successful Child” bahwa kesehatan emosional seseorang ditentukan sejak awal usianya. ‘’Kemampuan untuk mencintai di masa dewasa dapat ditelusuri pada ikatan emosional yang stabil antara orang yang memelihara di usia dini –biasanya ibu- dan bayi,’’ katanya.
William menyebutkan pula bahwa pola-pola asosiasi dini dalam otak bayi merupakan pendahulu dari kualitas penting di masa dewasa seperti kepercayaan, empati, keakraban dan persepsi diri. Kesan awal ini membentuk kesan pertama bayi terhadap seperti apa kehidupan itu.
Jadi, meski tidak mudah, bila Anda sudah berkomitmen untuk mengadopsi bayi maka bulatkanlah tekad dan berikan padanya pengasuhan yang terbaik. PG
Pola Pengasuhan yang Menentukan
William Sears MD menuliskan bahwa dari orang tua yang mengasuhnya, bayi juga akan belajar hal-hal seperti di bawah ini:
Mengadopsi bayi, bukan hanya masalah apakah Anda mampu atau tidak dalam segi finansial. Faktor kesiapan mental pun tak kalah penting.
Setelah menikah selama lima tahun, Rangga (37 tahun) dan Melli (35 tahun) sepakat mengadopsi seorang bayi. ‘’Lima tahun ini kami sudah mengusahakan berbagai upaya untuk memiliki anak sendiri, tapi belum juga berhasil,’’ kata Melli kepada Agustin (19 tahun), ibu bayi yang akan diadopsi pasangan tersebut.
Agustin sebenarnya bukan orang asing bagi Melli. Bila dirunut, wanita muda itu masih tergolong sepupu jauh dari pihak ayah Melli. ‘’Saya terlalu muda untuk mengasuh bayi. Saya belum siap. Apalagi kondisi perekonomian juga tidak mendukung,’’ tutur Agustin, beralasan mengapa dirinya rela menyerahkan bayi yang baru dilahirkannya itu.
Setiap pasangan, cepat atau lambat tentu berharap dapat memiliki keturunan. Namun jika bertahun-tahun keinginan itu belum juga terwujud, maka cara lain tentu akan dipertimbangkan, seperti mengadopsi seorang bayi.
Hanya saja, kata Steven Dowshen, MD, seorang dokter spesialis anak endokrinologi, dari Division of Endocrinology Alfred I. duPont Hospital for Children dari Wilmington, DE, para orang tua harus juga mempertimbangkan secara matang keputusannya tersebut. ‘’Tidak masalah apakah bayi tersebut Anda dapatkan dari rumah sakit, atau dari sebuah yayasan, karena kehadirannya pastilah menjadi sesuatu yang sangat Anda harapkan,' kata Steven. Tentunya proses ini tidak begitu saja berhenti ketika Anda membawa anak yang diadopsi tersebut ke rumah. Melainkan, apa dan bagaimana selanjutnya?
Tips Mengasuh Bayi Adopsi
Lantas, apa sebenarnya yang harus dipersiapkan? Inilah beberapa di antaranya :
- Siap mental. ‘’Mengadopsi bayi, bukan hanya masalah apakah Anda mampu atau tidak dalam segi finansial. Faktor kesiapan mental pun tak kalah penting,’’ tutur Widayatri Sekka Udaranti, MSi, Psi, psikolog dari Bagian Psikologi Pendidikan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Kampus UI, Depok. Apalagi, dengan memiliki seorang anak juga berarti Anda akan mempunyai tanggung jawab baik dari segi kesejahteraan, kesehatan, maupun pendidikannya.
- Sosialisasikan. Ingatlah bahwa sang bayi akan ‘ikut’ dengan Anda dan suami seumur hidupnya. ‘’Komunikasikan hal ini dengan keluarga. Supaya, saat si kecil dibawa ke rumah, dia juga sudah ‘diterima’ oleh keluarga besar,’’ terang Widayatri.
- Membangun bonding. Pada anak kandung, ikatan batin telah terbina sejak ia berada dalam kandungan. Dalam keadaan ini, saat ia lahir berarti Anda hanya butuh meneruskan bonding yang sebelumnya telah terbina. Namun dengan bayi adopsi, baik Anda, bayi, maupun suami, sama-sama belajar untuk membangun perasaan cinta satu sama lain. Ini butuh waktu dan proses. Cara yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan bonding antara lain :
- Pijat bayi. Menurut sejumlah pakar, teknik pemijatan pada bayi efektif dalam menumbuhkan bonding ibu dan anak. Anda bisa ikut kelas pijat bayi di rumah sakit atau institusi lain yang terpercaya.
- Menggendong dan memandikan bayi. Kedua aktivitas ini pun diyakini dapat menjadi kesempatan untuk quality time, tidak hanya antara ibu dan bayi, tapi juga ayah dan bayi. Tanyakan pada mereka yang sudah berpengalaman atau dengan dokter anak, bagaimana tata cara menggendong dan memandikan yang benar.
- Memberi susu. Pada anak kandung, memberi ASI eksklusif terbukti efektif dalam menumbuhkan bonding. ‘’Pada bayi adopsi -meski harus menggunakan susu formula- pastikan Anda juga melakukan kontak mata, mengajaknya berkomunikasi, menyentuh kulitnya, ataupun mendendangkan lagu selama memberinya susu,‘’ kata dr. Soedjatmiko, SpA(K), MSi, dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang –pediatri sosial dan magister psikologi perkembangan dari FKUI RSCM.
- Berikan stimulasi. ‘’Selain nutrisi bergizi seimbang, pemberian stimulasi yang tepat juga penting bagi pembentukan bonding dan mengasah kecerdasan bayi,’’ ucap dr. Soedjatmiko. Stimulasi, selain dapat dilakukan saat memberinya susu, juga saat Anda mengendong, memandikan, dan bermain dengannya.
- Sabar. Akan ada perubahan pola hidup yang signifikan saat Anda memiliki bayi. Bayi memiliki pola tidur yang belum teratur dan juga perlu ‘dilayani’ untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya. Selain membutuhkan biaya, juga waktu dan tenaga. Untuk itu, Anda harus sabar.
- Gali informasi. Banyaklah bertanya dari mereka yang mempunyai anak, termasuk para ibu yang usia bayinya tak jauh dari usia bayi Anda. Baca juga majalah, internet, dan tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan para profesional seperti psikolog anak dan dokter anak tentang informasi seputar pengasuhan dan kesehatan si kecil.
Bayi adopsi juga berhak untuk bahagia. Cara Anda memelihara, ternyata dapat mempengaruhi emosi si kecil saat ia dewasa. Seperti yang dituturkan William Sears MD, seorang dokter anak sekaligus penulis buku “The Successful Child” bahwa kesehatan emosional seseorang ditentukan sejak awal usianya. ‘’Kemampuan untuk mencintai di masa dewasa dapat ditelusuri pada ikatan emosional yang stabil antara orang yang memelihara di usia dini –biasanya ibu- dan bayi,’’ katanya.
William menyebutkan pula bahwa pola-pola asosiasi dini dalam otak bayi merupakan pendahulu dari kualitas penting di masa dewasa seperti kepercayaan, empati, keakraban dan persepsi diri. Kesan awal ini membentuk kesan pertama bayi terhadap seperti apa kehidupan itu.
Jadi, meski tidak mudah, bila Anda sudah berkomitmen untuk mengadopsi bayi maka bulatkanlah tekad dan berikan padanya pengasuhan yang terbaik. PG
Pola Pengasuhan yang Menentukan
William Sears MD menuliskan bahwa dari orang tua yang mengasuhnya, bayi juga akan belajar hal-hal seperti di bawah ini:
- Jika Anda merespon bayi saat dia menangis, maka ia belajar untuk merespon seseorang ketika membutuhkan.
- Saat Anda menghiburnya saat ia gelisah, maka ia belajar untuk menghibur orang lain di kala seseorang itu terluka.
- Saat Anda menghentikan kegiatan Anda untuk menolongnya, ia belajar menoleh kepada manusia lain untuk mendapat bantuan. Ini juga membuatnya belajar untuk mempercayai diri mereka sendiri, orang lain dan dunia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar